Home » , » Musa, Juara Internasional Penghafal Quran Karena Didikan Keluarga

Musa, Juara Internasional Penghafal Quran Karena Didikan Keluarga

Assalamu’alaikum.wr.wb.

Salam sejahtera dan bahagia bagi Anda pengunjung Kolom Edukasi di manapun berada.

Siapa yang tak kenal Musa? Seorang bocah yang telah mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional. Dialah Musa La Ode Abu Hanafi, seorang anak berusia 7 tahun meraih juara 3 dalam perlombaan Musabaqoh Hifzil Quran (MHQ) tingkat dunia di Mesir pada 10-14 April 2016 lalu.

Musa, yang diutus pemerintah Indonesia mengikuti lomba hafal Alquran 30 Juz untuk kategori anak-anak. Ia adalah satu-satunya perwakilan Indonesia pada perlombaan yang diikuti oleh 60 negara itu. Dia juga tercatat sebagai peserta termuda.

Musa, Juara Internasional Penghafal Quran Karena Didikan Keluarga
Musa La Ode Abu Hanafi

Nama Musa sebenarnya bukan baru kali ini muncul. Dia sempat menggetarkan masyarakat Indonesia saat tampil sebagai peserta Hafiz Indonesia 2014 yang ditayangkan di salah satu televisi swasta.

Ketika itu usianya baru 5,5 tahun dan sudah menghapal 30 juz atau satu Alquran penuh. Ia pun muncul sebagai juara Hafiz Indonesia.

Menang di Indonesia, Musa dikirim ke lomba hafal Alquran International di Jeddah. Ketika itu dia berhasil menempati peringkat ke 12 dari 25 peserta.

Meski tak keluar sebagai juara, prestasi tersebut tentu membanggakan. Karena nilai yang diraih yakni 90,83 dari nilai 100 sebagai angka sempurna.

Tahun ini, prestasi baru diukir oleh Musa. Tidak hanya masyarakat Indonesia yang bangga padanya, tapi juga dewan juri serta para hadirin yang melihat langsung penampilan Musa di Mesir turut bergetar melihat kemampuan menghapal Alquran bocah yang cadel berbicara ini.

Sebenarnya, bagaimana pola pendidikan yang diterapkan orang tua Musa agar anaknya bisa menjadi penghapal Quran?

Musa, Juara Internasional Penghafal Quran Karena Didikan Keluarga


Seperti admin Kolomedu kutip dari laman sahabat keluarga saat Tim Sahabat Keluarga beberapa waktu lalu berbincang langsung dengan ayahnya, LA Ode Abu Hanafi (35).

Musa lahir di Muntok, Bangka Barat, yang terletak 140 km dari Pangkal Pinang. Sama seperti anak-anak lainnya, sehari-hari bocah kelahiran 25 Juli 2008 itu senang bermain.

Teman mainnya hanyalah kedua adiknya, Luqman (6) dan Hindun (4). Ayahnya tak mengizinkan dia keluar jauh dari rumah. Alasannya, karena khawatir Musa tersasar. Maklum saja, ia tinggal di wilayah hutan karet dan tidak terlalu banyak penduduk.

Agar tidak bosan, La Ode memfasilitasi anak-anaknya mainan seperti mobil-mobilan, sepeda atau mainan lainnya. Musa bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya ketika ada beberapa anak yang datang ke rumahnya untuk belajar mengaji pada ayahnya.

La Ode merupakan seorang pengajar ngaji dan berkebun karet. Ibunya, Yulianti, seorang ibu rumah tangga. Sebelum usianya mengancik dua tahun, Musa sudah mulai belajar mengaji. Sehari-hari La Ode memasang CD mengaji yang secara tidak langsung didengar oleh Musa di dalam rumah.
Baca juga : Pentingnya Peran Orangtua di Finlandia
La Ode melihat ketertarikan Musa pada ayat-ayat Alquran. Musa kerap melantunkan suara yang keluar dari cakram pemutar musik. Sejak itulah perlahan-lahan La Ode mulai melakukan talaqqi kepada Musa, yakni metode membacakan ayat demi ayat dengan tartil kemudian diikuti oleh yang diajarkannya.

Sejak itu, La Ode mengatur jadwal hafalan untuk Musa, yakni selepas sholat Subuh dan sesudah Magrib. ”Mulai usia dua tahun semakin rutin. Tapi enggak lama, hanya sebentar, sekitar 5-10 menit,” kenang La Ode.

Semula La Ode mengalami banyak kesulitan. Dia membutuhkan waktu dua hari hanya untuk mengajarkan awal dari surat An Naas. Maklum, Musa yang masih berusia 2 tahun belum mengerti rangkaian ayat.

Namun La Ode tetap sabar. Ia terus mengulang ayat-ayat yang ia ajarkan kepada Musa. Sebagai ayah, ia terus berupaya mendamping Musa.

Tujuan La Ode tercapai. Musa bisa membaca Alquran di usia 4 tahun. Di usia yang masih dini Musa sudah menghafal 2 juz. Kehebatan Musa dalam menghafal Alquran juga tak lepas dari peran ibunya. Umi, ia menyebutnya, selalu berupaya mendampingi Musa saat mengaji.

Ia pun kerap mengajak Musa bermain mobil-mobilan, kereta-keretaan dan bermain bola. Saat buah hatinya lelah, ia terus menyemangati anaknya. Jika sudah jenuh, Hanafi mengajak putranya berbincang ringan.

Kegigihan Musa dan kesabaran orang tuanya mendampingi buah hati mereka berbuah manis. Kini, Musa tidak hanya dikenal sebagai penghafal Alquran, melainkan juga menghafal hadis. *Bunga Kusuma Dewi #Sahabatkeluarga

Demikian sekilas tentang pendidikan keluarga yang diperoleh oleh Musa, sehingga ia bisa menjadi Juara Internasional Penghafal Quran mewakili bangsa Indonesia sekaligus mengharumkan Indonesia dikancah Internasional. Sekian, terima kasih dan wassalam.
Previous
« Prev Post

4 komentar:

  1. Sangat membuat haru dan bangga ya Mas...
    Semoga akan banyak di temukan juara-juara penghafal Al-Qur'an dimasa mendatang seperti Musa...
    Salam,

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin Yaa Rabb,.... iya Mas Dedy Akas. Semoga muncul para Hafidz kecil lainnya.
      salam,

      Delete
  2. Kalo ngak salah juara 3 ya mas, wah ini harus jadi contoh nih buat anak2 jaman sekarang dan seterusnya ...

    ReplyDelete