Home » » Labelling Positif Ke Anak Berdampak Pada Prestasi

Labelling Positif Ke Anak Berdampak Pada Prestasi

Assalamu’alaikum.wr.wb.

Salam sejahtera dan bahagia bagi Anda pengunjung Kolom Edukasi di manapun berada.

Pernahkah Anda melihat orangtua yang kesal dan kecewa terhadap anaknya lantas mengumpat dengan kata-kata kasar seperti: “Dasar anak bodoh”, Kamu ini Bandel”, “Kamu tidak bisa apa-apa”, Begini saja tidak bisa” dan lain-lain. Atau mungkin “maaf” Anda sendiri pernah mengungkapkan kekecewaan terhadap putra-putri Anda di rumah dengan umpatan di atas?.

Dalam ilmu psikologi, inilah yang dinamakan labeling atau proses melabel seseorang. Dalam A Handbook for The Study of Mental Health, labeling adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut, dan menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia. Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu persatu.

Labelling Positif Ke Anak Berdampak Pada Prestasi


Chornelis U. R. Palanggaringu dan Andreas Aldyanto Nura, dua orang siswa SMAN 1 Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT) mencoba melakukan penelitian tentang dampak labeling bagi peningkatan prestasi siswa. Melalui penelitian yang berjudul “Labelling yang dapat meningkatkan kinerja otak” itu, kedua siswa tersebut menjadi finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2016 bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Berawal dari pengalaman pribadi Chornelis dan juga budaya masyarakat NTT yang cenderung keras terhadap anak, kedua remaja ini mulai berpikir bagaimana untuk mengatasinya.

Keduanya memberi siswa labelling positif saat pembelajaran di kelas. Yang dijadikan objek penelitian adalah siswa kelas 10 IPS 1 dan 10 IPS 2 di SMAN 1 Waingapu. Selama kurang lebih 2 minggu mereka tanpa sadar menjadi objek pemberian labelling positif. Mata pelajaran Ekonomi dijadikan pilihan objek penelitian. Pemilihan mata pelajara ekonomi didasarkan, pelajaran ini selalu mendapat predikat E saat Ujian Nasional. Jadi keduanya mencoba mencari solusi untuk meningkatkan predikat ini.
Baca juga: Rumah, Kunci Sukses Pola Asuh dan Pendidikan Anak
Selama penelitian berlangsung, siswa diberikan labelling positif dengan mekanisme yang telah diatur. Guru dalam hal ini berperan sebagai pelaku, dan melakukan mekanisme yang ada. Seperti, mengatakan “Pelajaran ini mudah bagi kalian”, “Kalian pintar”, “Kalian tidak bodoh”, “Soal ini gampang untuk kalian”, dan sebagainya. Kata-kata ini diucapkan dengan interval dan rentang waktu yang telah ditentukan.

Hasilnya menunjukkan, Rata-rata nilai pelajaran Ekonomi di kedua kelas ini meningkat. Kelas 10 IPS 1 sebelumnya memiliki rata-rata nilai 75,5 dan setelah labelilling positif meningkat menjadi 79,85. Dan kelas 10 IPS 2 sebelumnya 58,9 meningkat menjadi 69,2.

Chornelis dan Andreas berharap bahwa semua guru di Indonesia menerapkanlabelling positif ini dilakukan pada saat pembelajaran di kelas. Mereka juga berharap jika suatu saat metode ini akan dimasukkan pada kurikulum pendidikan nasional.

Walaupun kedua siswa NTT itu tak berhasil meraih juara, namun hasil penelitian itu memberi inspirasi bagi guru, dan terlebih bagi orang tua untuk berhati-hati dalam memberikan labelling pada anak-anak.

Demikian info keluarga yang dapat admin share, semoga bermanfaat, terima kasih dan wassalam.

Sumber: http://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=3568
Previous
« Prev Post

8 komentar:

  1. Bermanfaat sekali pak, khususnya untuk orang tua yg belum tau cara terbaik mendidik anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini juga bagus buat masukan mas nino, persiapan sebelum punya anak, betul enggak?..hehehe

      Delete
    2. Iya Mas Nino, khususnya buat orangtua seperti saya yang masih mempunyai anak kecil dan murid ratusan di sekolah he

      Delete
    3. Mas Adi: hhhhha betul juga tuh :D

      Delete
  2. ini nih kelebihan seorang guru yang berwawasan luas, semuanya sudah diluar otak, dan tinggal cetak di bog. Ajib mas bro..

    ReplyDelete
  3. thanks pak ulasannya..

    menambah wawasan saya dalam mendidik anak.Kebetulan anak saya baru umur 4 tahunan dan lagi susah susahnya di atur..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mas Kholik, wah sama-sama punya anak kecil kita mas, anak saya juga baru berumur 27 bulan hehe :)

      Delete