Home » » Masih SMK, Siswa ini Sudah Jadi Pengusaha Percetakan dengan Omset Puluhan Juta Rupiah

Masih SMK, Siswa ini Sudah Jadi Pengusaha Percetakan dengan Omset Puluhan Juta Rupiah

Assalamu’alaikum.wr.wb.

Salam sejahtera dan bahagia bagi Anda pengunjung Kolom Edukasi di manapun berada.

Nama lengkapnya Fahris Tauzinasy Syifa. Siswa kelas XII SMK Negeri 4 Malang, Jawa Timur ini sudah menjadi seorang pengusaha percetakan di usianya yang baru menginjak 18 tahun.

Niatnya berwirausaha baru muncul setelah ia mengikuti pembelajaran di sekolahnya untuk program keahlian Produksi Grafika. Meski usaha yang dirintisnya baru berusia satu tahun, Fahris sudah bisa mendapatkan omset bernilai puluhan juta rupiah.


Fahris Tauzinasy Syifa
Foto: @Kemdikbud


Fahris mengaku, awalnya ia tidak berminat masuk sekolah menengah kejuruan (SMK). Motivasinya masuk SMK karena mengikuti keinginan orang tua yang menginginkan anaknya memiliki keahlian setelah lulus dari pendidikan menengah. Bahkan ia sendiri tidak paham seperti apa program keahlian Produksi Grafika yang dipilihnya di SMKN 4 Malang.

"Dulu pas masuk sini (SMKN 4 Malang) nggak tau apa itu produksi grafika. Lalu pas sudah masuk sekolah, belajar, dan lihat-lihat mesin cetak, saya jadi tertarik dan ingin buka usaha percetakan sendiri," katanya mengenang masa-masa awal menjadi siswa SMK Negeri 4 Malang.

Fahris bertutur, suatu hari di sekolah pernah ada sesi diskusi dengan guru dan teman-temannya mengenai cita-cita. Saat ia mengutarakan cita-citanya menjadi pengusaha percetakan, teman-temannya menertawakannya. "Saya diketawain teman-teman waktu itu," tuturnya.

Untuk memperlihatkan keseriusannya, Fahris pun mendirikan perusahaan percetakan yang diberi nama Barokah Printing, dengan modal dari tabungannya sendiri. Barokah Printing didirikan pada tanggal 11 Januari 2016. Lalu sekitar enam bulan kemudian berubah nama menjadi Asa Printing.

"Dulu waktu pakai nama Barokah Printing itu baru dalam tahap penyusunan strategi saja. Terus setelah udah mulai serius dan terjun ke lapangan saya minta restu dari orang tua, saya minta saran juga. Dari situ sama Ayah saya dikasih nama Asa Printing," ujar Fahris. Ia menambahkan, kata "Asa" berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti kemenangan atau harapan.

Seperti layaknya seseorang yang memulai usaha, Fahris juga merasakan jatuh-bangun. Saat mendapat pesanan cetakan untuk pertama kalinya, ia langsung rugi sekitar Rp2 juta rupiah karena kliennya tidak puas dengan hasil cetakannya, dan meminta dicetak ulang. Kala itu Fahris masih menggunakan pihak ketiga untuk mencetak pesanan yang diterimanya, sehingga ia tidak bisa mengawasi secara langsung saat proses pencetakan.

Sekarang Fahris sudah bisa menggunakan mesin cetak di sekolahnya lewat fasilitas Unit Produksi dan Jasa (UPJ). Mesin cetak di SMKN 4 Malang menggunakan mesin cetak Offset Printing Machine GH 524 dan Thermal CTP Platemaker Speedy 560/110, dengan merk Gronhi.



Offset Printing Machine GH 524
Foto: @http://hzaochi.en.made-in-china.com

Mesin cetak empat warna itu merupakan bantuan dari Asian Development Bank (ADB). Dengan meminjam mesin cetak di Unit Produksi dan Jasa SMKN 4 Malang, Fahri dapat melakukan pengawasan secara langsung terhadap proses pencetakan dan hasil cetaknya.

Saat ini ia sudah memiliki dua karyawan tetap yang terdiri dari alumni SMKN 4 Malang dan siswa SMKN 4 Malang yang berlatar belakang teknologi informasi, khususnya bagian desain. "Freelance juga banyak, bisa belasan sampai puluhan, tergantung orderan cetakan," ujar anak tengah dari tiga bersaudara itu. Omset yang diterimanya pun pernah mencapai puluhan juta rupiah. Awal tahun 2017 ini ia baru saja mendapatkan pesanan untuk mencetak ratusan kalender dari sebuah hotel ternama di Malang.

Penyuka sepak bola itu merasa bersyukur mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah maupun keluarga dalam menjalani usahanya. Selain diperbolehkan menggunakan fasilitas di UPJ, Fahris juga merasa terbantu saat berkonsultasi dengan salah satu guru, Rini Soesilowati, seorang guru di program keahlian Persiapan Grafika.

Fahris pernah meminta petunjuk dari Rini mengenai cara membuat nota kesepahaman atau surat kontrak saat menerima pesanan. Di acara syukuran setahun berdirinya Asa Printing, ia pun mengundang Rini untuk datang ke acara tersebut, tapi Rini berhalangan untuk hadir. Esok paginya di sekolah, Rini mendapati di atas mejanya terdapat sebuah parsel buah yang dikirimkan Fahris sebagai ucapan terima kasih dan syukur. "Saya terharu, sampai hampir menangis melihatnya," tutur Rini yang tidak menyangka Fahris sangat memperhatikan konsultasi yang dianggapnya tidak seberapa itu. Sebagai guru, ia juga mengaku sangat senang dengan keberhasilan Fahris berwirausaha.

Dukungan dari keluarga juga diterima Fahris, meskipun pada awalnya keluarganya sempat keberatan dengan niatnya berwirausaha sambil bersekolah. "Takut sekolah terganggu," kata Fahris saat ditemui usai ujian praktik kejuruan UPK), di Gedung SMKN 4 Malang, Jawa Timur, Jumat (3/3/2017).

Namun, ia berhasil membuktikan kepada orang tuanya bahwa ia bisa melakukan manajemen waktu dengan baik, antara sekolah, berwirausaha, dan kegiatan "mondok" di Pondok Pesantren Islam Darul Makin Malang. "Sekolah sampai jam 3. Terus jam 3 sampai jam 5 saya cari order (pesanan). Lalu mondok, ngaji sampai jam 8, lanjut mengerjakan tugas sekolah di pondok sampai tengah malam, tidurnya di pondok. Makanya kadang saya suka ngantuk-ngantuk kalau lagi di sekolah," tuturnya sambil tersenyum.
Baca juga: Disabilitas Bukan Halangan untuk Menuntut Ilmu
Siswa yang akan mewakili sekolahnya dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) itu berencana melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah setelah lulus dari SMK nanti. "Saya ingin kuliah sambil berwirausaha," ujarnya. Menariknya, jurusan yang dipilihnya di perguruan tinggi nanti tidak linier dengan jurusannya di SMK, maupun kegiatannya berwirausaha. Pria kelahiran 1 November 1998 itu tidak berniat mengambil jurusan teknik maupun manajemen, melainkan jurusan psikologi. "Saya tertarik dengan psikologi. Itu yang sesuai dengan pilihan hati saya," tutur Fahris.

Fahris telah membuktikan bahwa siswa SMK mampu berwirausaha dan menciptakan lapangan kerja. Ia juga menjadi contoh mampu bersaingnya siswa SMK dalam perputaran roda ekonomi, khususnya di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Ia dan sekolahnya telah menjadi praktik baik (best practice) bagaimana lulusan SMK bisa berkualitas dan memiliki daya saing, sesuai dengan yang diharapkan dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK Dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Sumber Daya Manusia Indonesia.

Demikian info inspiratif yang dapat admin share sebagaimana dikutip laman resmi kemdikbud.go.id. Semoga bermanfaat, terima kasih, wassalamu’alaikum.wr.wb.
Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment