Home » » Raeni, Anak Tukang Becak itu Kini Sudah Kuliah di Inggris

Raeni, Anak Tukang Becak itu Kini Sudah Kuliah di Inggris

Assalamu’alaikum.wr.wb.

Selamat malam dan salam sejahtera bagi Anda semua. Semoga selalu dalam keadaan sehat amin.

Masih ingatkah Anda dengan Raeni, lulusan terbaik dari Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unes) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3.96?. Saat diwisuda pada Juni 2014 lalu, anak dari Mugiyono, seorang tukang becak ini, sempat menjadi liputan media karena datang ke tempat wisuda dengan diantar ayahnya menaiki becak.

Nah, pada 10 Agustus 2015 lalu, Raeni terbang ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan S2nya di program Magister of Science in International Accounting and Finance, di Birmingham University. Raeni kuliah di negaranya Ratu Elizabeth tersebut dengan Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang dikelola Kementerian Keuangan. Saat menjalani S1 di Unes pun, Raeni mendapatkan beasiswa program Bidikmisi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mugiyono dan istrinya, Sujamah, tentunya merasa bangga atas prestasi yang diraih putri keduanya itu. Namun, apa yang diraih Raeni itu tentunya karena hasil didikan, dorongan, dan dukungan kedua orang tuanya.
Raeni, Anak Tukang Becak itu Kini Sudah Kuliah di Inggris
Raeni bersama Ayah dan Becaknya

Raeni mengatakan, apa yang diraihnya tersebut karena didikan kedisiplinan, kejujuran, kesederhanaan yang diberikan ayahnya. Menurut gadis kelahiran 13 Januari 1993 itu, sejak kecil ia dibiasakan disiplin, mengakui kesalahan, dan hidup sederhana. "Bapak orangnya tegas, ketika saya salah ya harus mengaku salah. Bapak selalu mengarahkan supaya hidup sederhana," ujarnya.

Raeni mengaku sempat minder dengan kondisi orangtuanya. Dukungan besar merupakan alasan yang cukup untuk membuatnya bangga kepada keluarga. “Dulu pernah minder punya orangtua tukang becak. Tapi, kenapa minder? Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak (saat kuliah), tapi mendukung saya. Saya sangat bangga,” tuturnya.

Sebelum menjalani profesi sebagai tukang becak, Mugiyono sebetulnya merupakan pekerja di sebuah pabrik kayu lapis. Namun, ia memutuskan pensiunan dini dengan harapan mendapatkan pesangon yang bisa dipakai untuk membiayai kuliah Raeni.

Memang, sebagai penerima beasiswa Bidikmisi, selain menerima biaya untuk kuliah, kebutuhan kos dan makan masih harus mencari. Sambil kuliah Raeni mengajar les privat. Setelah keluar pabrik, Mugiono banting setir menjadi tukang becak di sekitar rumahnya. Sehari-hari mendapat penghasilan Rp 10-50 ribu. Untuk mencari tambahan dia menjalani profesi sampingan sebagai penjaga malam dengan upah Rp 450 ribu/bulan.

Selama kuliah, Raeni membuktikan, kemiskinan tak membuatnya patah semangat. Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Dia beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna!
Raeni, Anak Tukang Becak itu Kini Sudah Kuliah di Inggris
Raeni dan Ayahnya

Raeni juga menunjukkan tekad baja, agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. Tentu saja cita-cita itu didukung sang ayahanda. Mugiyono mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah, agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.

"Sebagai orangtua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon," kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Raeni tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos. Ia selalu berusaha menjalankan salat berjamaah di Masjid, seperti yang diajarkan orangtuanya.

Sejak kuliah ia nyaris tak pernah merepotkan kedua orangtua. Sejak semester 3, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les privat kepada murid SMA. Sosok Mugiyono yang sempat membuatnya minder, ternyata mampu membentuk Raeni berdisiplin, sportif, dan hidup sederhana.

Rektor Unnes, Fathur Rokhman, mengatakan, Raeni telah memberikan pesan penting, bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. " Yang paling penting dari diri Raeni adalah tentang pentingnya kesungguhan. Dia membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat," tandasnya.

Hmm sangat inspiratif banget ya… faktor ekonomi ternyata tidak bisa menghambat seseorang untuk berprestasi. Ketekunan, kedisiplinan, kejujuran, dan kesederhanaan bisa mematahkan anggapan sebagian orang, bahwa orang yang (maaf) kurang mampu pasti pendidikannya rendah karena tidak mampu sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. (Sahabatkeluarga)

Demikian informasi yang dapat admin share kali ini. Mohon maaf bila ada kesalahan dan kekurangan. Sekian, terima kasih dan wassalam.
Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment