Latest News

Mendikbud: Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Tidak Mengubah Struktur Kurikulum

Assalamu’alaikum.wr.wb.

Salam sejahtera dan bahagia bagi Anda pengunjung Kolom Edukasi di manapun berada.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) tidak mengubah struktur kurikulum, dan menambah waktu belajar siswa di sekolah. Menteri Muhadjir menghimbau agar sekolah tidak melakukan penambahan waktu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas (intrakurikuler) di luar ketentuan kurikulum 2013 maupun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Mendikbud: Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Tidak Mengubah Struktur Kurikulum
Mendikbud Muhadjir Effendy (Source:setkab.go.id)

“Tidak ada perubahan kurikulum yang dipakai, tetap Kurikulum 2013 atau K-13, bagi yang belum menerapkan K13 bisa menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,” ujarnya, di Jakarta, seperti dirilis laman resmi kemdikbud.go.id, Senin (7/8/2017).

Sehingga, implementasi Penguatan Pendidikan Karakter diberlakukan dengan masing-masing satuan pendidikan. "Kalau untuk kurikulum 2013 yang dilaksanakan lima hari, anak-anak SD selesai belajar pukul 12.10, sedangkan untuk SMP selesai pukul 13.20. Setelah itu mereka bisa pulang dan melanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler. Bisa di sekolah, bisa juga di luar sekolah seperti mengaji di madrasah diniyah,"uarnya.
Penerapan lima hari sekolah pun, lanjut Mendikbud, bukan diberlakukan bagi siswa tapi  jam kerja bagi guru. “Itu lima hari sekolah, dengan delapan jam dalam satu hari, bukan diperuntukkan bagi siswa,” tegas Mendikbud. Bagi guru, lima hari kerja merupakan pemenuhan beban kerja guru sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2017 yang merupakan perubahan dari PP Nomor 74 Tahun 2008.

Sehingga, pemenuhan beban kerja guru diperluas menjadi Lima M, yaitu merencanakan, melaksanakan dan menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan. Kemudian guru juga dapat membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas-tugas tambahan.

Kebijakan Lima Hari Sekolah merujuk kepada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Payung hukum ini mengatur Penguatan Pendidikan Karakter dengan optimalisasi peran sekolah. Hari sekolah dilaksanakan selama delapan jam dalam satu hari, atau 40 jam selama lima hari dalam seminggu. Ketentuan itu termasuk waktu istirahat selama 0,5 jam dalam satu hari atau 2,5 jam selama lima hari dalam satu minggu.

Mata pelajaran agama merupakan bagian dari Penguatan Pendidikan Karakter. Sehingga, Kemendikbud pun turut bersinergi untuk menjalin kerja sama penerapan Penguatan Pendidikan Karakter dengan Madrasah Diniyah. Beberapa waktu lalu (14/6/2017), upaya penjajakan sudah ditempuh dengan pertemuan antara Kemendikbud dengan Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Agama.

Penguatan Pendidikan Karakter memiliki lima nilai utama meliputi religius, nasionalis, gotong royong, mandiri dan integritas. Melalui lima hari sekolah, fokus pembinaan karakter berlangsung bukan semata pada Kegiatan Belajar Mengajar intrakurikuler, tapi juga mencakup kokurikuler dan ekstrakurikuler dengan suasana yang menyenangkan bagi siswa. *

Demikian informasi yang dapat admin share. Semoga bermanfaat, terima kasih, wassalamu’alaikum.wr.wb.

Komponen Literasi Informasi

Assalamu’alaikum.wr.wb.

Salam sejahtera dan bahagia bagi Anda pengunjung Kolom Edukasi di manapun berada.

Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.

Komponen Literasi Informasi

Clay (2001) dan Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan bahwa komponen literasi informasi terdiri atas literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Dalam konteks Indonesia, literasi dini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap selanjutnya. Komponen literasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Literasi Dini [Early Literacy (Clay, 2001)], yaitu kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.
Baca juga: Tips Memilih Buku Bacaan untuk Anak Usia Dini
2. Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

3. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.

4. Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.

5. Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet.

Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.

6. Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.

Adapun pihak yang berperan aktif dalam pelaksanaan komponen literasi dapat dilihat pada tabel berikut.


Literasi yang komprehensif dan saling terkait ini memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya sebagai warga negara global (global citizen).
Dalam pendidikan formal, peran aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru sebagai pendidik, tenaga kependidikan, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi pengembangan komponen literasi peserta didik. Agar lingkungan literasi tercipta, diperlukan perubahan paradigma semua pemangku kepentingan.

Selain itu, diperlukan juga pendekatan cara belajar-mengajar yang mengembangkan komponen-komponen literasi ini. Kesempatan peserta didik terpajan dengan kelima komponen literasi akan menentukan kesiapan peserta didik berinteraksi dengan literasi visual.

Demikian penjelasan komponen dalam literasi. Semoga bermanfaat, terima kasih, wassalamu’alaikum.wr.wb.

Source: Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud

Tips Memilih Buku Bacaan untuk Anak Usia Dini

Assalamu’alaikum.wr.wb.

Salam sejahtera dan bahagia bagi Anda pengunjung Kolom Edukasi di manapun berada.

Keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kita karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karena itu, keterampilan ini harus dikuasai anak dengan baik sejak dini.

Tips Memilih Buku Bacaan untuk Anak Usia Dini

Membudayakan literasi atau membiasakan membaca dan menulis itu tidak mudah dan diperlukan proses yang panjang. Untuk membudayakan literasi seharusnya diawali dari lingkungan terkecil yaitu lingkungan keluarga. Orang tua harus menjadi motor penggerak pertama dan utama dalam membudayakan literasi di rumah bagi anak-anaknya. Yang tak kalah penting, membudayakan literasi harus dimulai sejak anak-anak masih berusia dini.

Salah satu yang perlu dilakukan sebuah keluarga adalah menyediakan berbagai bahan bacaan, entah itu buku, majalah, komik, atau bahan bacaan lain untuk anak-anak sejak usia dini.

Buku seperti apa yang harus diberikan kepada anak-anak yang masih berusia dini? Berikut adalah beberpa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk memilihkan buku baginya sebagaimana dikutip laman resmi sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id.
  1. Carilah buku dengan tema atau isi cerita yang sama dengan buku dongeng yang sebelumnya sering dibacakan orang tua pada anak sebagai dongeng sebelum tidur. Ketika dia mampu membacanya dan ketika memorinya bekerja, dan ketika tersadar itu adalah buku atau cerita yang pernah ia dengarkan, akan membuat dia semakin semangat untuk membaca.
  2. Orang tua juga bisa memberikan buku yang dibuat dengan struktur kalimat yang singkat dan sederhana yang memudahkan anak mengingatnya.
  3. Cobalah anak-anak diberikan buku dengan tokoh, atau cerita yang pernah disukai orang tua dulu. Hal ini akan membuat orang tua makin tertarik dan bersemangat untuk mendampingi dan mengajarkan anak-anaknya membaca. Tapi tetap perhatikan minat anak terhadap buku yang diberikan itu, apakah dia menyukainya atau tidak.
  4. Pilihlah buku yang banyak illustrasi dan gambar yang akan membantu anak semakin mengerti akan isi cerita. Usahakan gambarnya berwarna, karena ketika terdapat cerita berisi bunga mawar merah, jangan sampai gambarnya ternyata mawar berwarna hitam putih. Tentunya akan membingungkan si kecil.
  5. Pahami minat anak anda dan berilah buku sesuai minatnya. Hal ini tentu akan membuat anak-anak semakin tertarik ketika dia senang akan pesawat dan mendapati ibunya memberikan buku tentang pesawat. Jadi, dorong anak untuk menyukai membaca dulu.
  6. Bawa anak anda ke toko buku atau perpustakaan dan beri keleluasaan untuk memilih buku yang dia suka, tentunya tetap pengawasan dilakukan oleh orang tua.
  7. Orang tua juga bisa meminta pendapat petugas perpustakaan atau ahli buku atau via internet mengenai buku yang tepat berdasar usia, minat dan tingkat kemampuan membaca anak anda.
  8. Buku-buku anak yang berkualitas seperti buku yang pernah mendapat penghargaan atau buku yang ditulis pakar pendidikan anak juga bisa jadi dipertimbangkan sebagai buku pilihan bagi anak anda.
  9. Disarankan untuk memilih jenis buku yang bisa melatih kemampuan dan kecerdasan otak anak seperti buku yang berisi sususan gambar atau mencocokan jenis warna. Buku seperti ini akan menstimulus perkembangan keceradasan otak anak. selain itu untuk melatih kemampuan berpikir pada anak Anda sejak usia dini.
  10. Buku yang baik untuk anak hendaknya memiliki konten yang mendidik disertai dengan gambar yang menarik dan berwarna mencolok.
  11. Jangan membiarkan anak memilih buku bacaan yang tidak berkualitas seperti komik. Apabila anak sudah mengenal komik sejak kecil maka hal tersebut bisa menjadi sebuah kecanduan sampai dia tumbuh dewasa. Yanuar Jatnika
Demikian informasi yang dapat admin share. Semoga bermanfaat, terima kasih, wassalamu’alaikum.wr.wb.

Rilis Aplikasi Dapodikdasmen Versi 2018 Tahun Pelajaran 2017/2018

Assalamu’alaikum.wr.wb.

Salam sejahtera dan bahagia bagi Anda pengunjung Kolom Edukasi di manapun berada.

Alhamdulillah, setelah menunggu ± satu bulan Tim Dapodikdasmen akhirnya berhasil menyelesaikan proses pengujian aplikasi Dapodikdasemen versi baru untuk digunakan pada Tahun Ajaran 2017/2018 sesuai dengan jadwal. Maka pada kesempatan ini telah dirilis Aplikasi Dapodikdasmen Versi 2018 (Versi Aplikasi Dapodikdasmen adalah 2018, sekaligus mengoreksi pengumuman sebelumnya yang menyebutkan versi 2017 D).

Aplikasi Dapodikdasmen Versi 2018

Pada Aplikasi Dapodikdasmen Versi 2018 terdapat perubahan yang cukup signifikan dengan penggunaan database versi baru, pembaruan beberapa fitur dan juga penambahan fitur baru, validasi data, serta perbaikan beberapa bug versi sebelumnya.

Pembenahan-pembenahan tersebut sebagai upaya untuk terus meningkatkan kualitas data Dapodik dan juga upaya untuk melakukan sinkronisasi terhadap aturan/regulasi yang berlaku, serta menyelaraskan terhadap prosedur dan mekanisme pemanfaatan data Dapodik untuk berbagai transaksi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Aplikasi Dapodikdasmen versi 2018 telah menggunakan database versi baru, maka secara teknis Aplikasi Dapodikdasmen versi sebelumnya (2017, 2017a, 2017b, 2017c) tidak dapat langsung di upgrade ke Dapodikdasmen versi 2018, akan tetapi harus melakukan install ulang. Oleh karenanya Aplikasi Dapodikdasmen Versi 2018 hanya dirilis dalam bentuk INSTALLER (tidak ada versi UPDATER).

Untuk struktur kurikulum SMK 2013 masih akan dilakukan pembaharuan.

Berikut adalah daftar perubahan pada Aplikasi Dapodikdasmen Versi 2018:
  1. [Pembaruan] Penambahan menu Jadwal pembelajaran.
  2. [Pembaruan] Penambahan kolom anak ke-berapa pada Peserta Didik.
  3. [Pembaruan] Isian secara otomatis untuk sarana yang berada dalam prasarana jenis Ruang Kelas/Teori.
  4. [Pembaruan] Penambahan tombol pada blockgrant untuk pemetaan dengan prasarana.
  5. [Pembaruan] Penambahan tombol pada blockgrant untuk pemetaan dengan sarana.
  6. [Pembaruan] Penambahan tombol pada prasarana untuk pemetaan dengan blockgrant.
  7. [Pembaruan] Penambahan tombol pada sarana untuk pemetaan dengan blockgrant.
  8. [Pembaruan] Penambahan sheet baru untuk rekap jadwal pada unduhan profil sekolah.
  9. [Pembaruan] Penambahan referensi Pengurus Komite Sekolah pada jenis satuan tugas di Kepanitiaan Sekolah.
  10. [Pembaruan] Penambahan referensi Kepala Sekolah menjadi tugas utama.
  11. [Pembaruan] Penambahan referensi UKG untuk data rincian Nilai/Test pada PTK.
  12. [Pembaruan] Penambahan referensi jenis rombel Ekstrakurikuler pada menu Rombongan Belajar.
  13. [Pembaruan] Penambahan tabulasi rincian Ekstrakurikuler pada menu Sekolah.
  14. [Pembaruan] Perubahan tampilan pada menu Peserta Didik, jika yatim dan atau piatu maka baris data akan berwarna.
  15. [Pembaruan] Perubahan tampilan pada halaman registrasi dan login.
  16. [Pembaruan] Pemisahan menu antara rombongan belajar reguler dan ekstrakurikuler.
  17. [Pembaruan] Penambahan pemicu untuk mengaktifkan kolom nama peserta didik pada saat terdeteksi nama tidak wajar ketika melakukan validasi.
  18. [Pembaruan] Penambahan validasi jika terdeteksi guru yang mengajar ganda pada jadwal.
  19. [Pembaruan] Penambahan validasi ketika masih ada pembelajaran yang belum dipetakan ke dalam jadwal.
  20. [Pembaruan] Penambahan validasi panjang dan lebar pada prasarana.
  21. [Pembaruan] Penambahan validasi untuk jumlah sarana.
  22. [Pembaruan] Penambahan validasi peserta didik yang belum mempunyai NISN.
  23. [Pembaruan] Penambahan dan perbaikan panduan, peraturan dan formulir pada Pusat Unduhan.
  24. [Pembaruan] Perubahan deskripsi waktu penyelenggaraan sekolah.
  25. [Perbaikan] Perbaikan bugs ketika akan sinkronisasi.
  26. [Perbaikan] Perbaikan tanda baca ,(koma) dapat menjadi kata pada nama Peserta Didik dan GTK.
  27. [Perbaikan] Perbaikan urutan label Jenis PTK pada form PTK.
  28. [Pembaruan] Pengisian data pada no rekening bagi peserta didik pemegang KIP oleh pusat.
  29. [Pembaruan] Pengisian data validasi yang ditemukan di pusat.

Bagi Anda Kepala Sekolah/operator diharapkan segera melakukan upgrade ke Aplikasi Dapodikdasmen versi 2018 dan melakukan pemutakhiran data Tahun Ajaran 2017/2018 dengan mengunduh aplikasi di laman resmi http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id/.

Demikian informasi yang dapat admin share. Semoga bermanfaat, SALAM SATU DATA, wassalamu’alaikum.wr.wb.